Kita semua pasti tau, kasih Ibu sepanjang masa untuk
anaknya, nyata dan selalu terasa. Tapi pernahkah kita, para anak berpikir
tentang kasih Bapak yang juga tak pernah absen untuk anak-anaknya. Saya sendiri,
lebih sering berkasih sayang dengan Ibu, lebih dekat dengan Ibu, semua hal
pasti Ibu tahu. Beda dengan Bapak yang lebih banyak tidak dirumah dan tidak
bersama kita. Tapi pagi ini saya ingin berbagi sedikit kisah yang mungkin menginspirasi,
tentang Bapak, tentang Pengorbanan dan kasih sayang Bapak untuk anaknya.
Pagi ini, seperti biasa saya datang ke Kampus, bukan untuk
kuliah, karena memang mata kuliah saya sudah habis, eh belum ding, masih ada
satu lagi matkul lagi untuk saya bisa disebut Sarjana. Eeh, kembali ke cerita
saya ya J
Baru saja menaruh tas dan duduk, tak lama masuk Mas Budi,
Mas Budi ini Asisten Saya di ruangan, biasa membantu untuk menjaga kebersihan kantor
dan semua hal di ruangan. Biasanya mas Budi masuk untuk mengantarkan
gelas-gelas yang sudah dia cuci sebelumnya. Tapi kali ini berbeda, mas Budi
masuk dengan tangan kosong tanpa gelas atau sapu di tangan. Saya pikir, Mas
Budi mau minta mie untuk sarapan, atau teh manis panas, atau ada titipan pesan
untuk saya.
Seperti biasa, saya tanya “Ada apa Mas Budi?”
Dengan agak kikuk mas Budi mengambil duduk di meja disamping
saya. Agak terbata-bata juga mas Budi berusaha menyampaikannya kepada saya
bahwa honor dari Pusat kajian lain yang satu lantai dengan saya belum turun
untuk bulan ini,
“padahal biasanya sudah Mba” kata Mas Budi.
“Oh koq bisa mas?” saya berusaha menimpali Mas Budi
“Iya Mba, saya juga sudah tanya, tapi yang biasa kasih honor saya lagi ada, kalau boleh saya mau pinjam dari sini Mba. Ada kebutuhan mendesak.” Masih dengan kikuk Mas Budi menjawab
“Oh iya, ga papa Mas, Mas Budi butuh berapa?”
Mas Budi menjawab angka sekian, yang mungkin buat orang lain itu tidak seberapa.
“Anak saya ulang tahun Mba besok Sabtu, jadi uang itu mau saya pakai untuk kue ulang tahun anak saya. Nanti kalau honor saya sudah turun akan langsung saya ganti Mba”
Deg!, saya langsung terharu mendengar penjelasan Mas Budi. Ternyata
karena itu, saya langsung berpikir kemana-mana, emang dasarnya agak mellow juga
orangnya. Terharu dengan usaha Mas Budi untuk anaknya.
Langsung saya paham, bahwa selama ini saya juga, selalu kurang
berpikir tentang Bapak saya, yang lebih sering terlihat tidak peduli dengan
anak-anaknya, sibuk diluar untuk bekerja. Tetapi, kita tak pernah tahu usaha
apa yang sudah Bapak lakukan untuk membahagiakan anaknya, agar anaknya tak
perlu kecewa, agar anaknya selalu bahagia. Dengan usaha apapun, tak peduli
bagaimana, Bapak selalu ingin yang terbaik untuk anaknya.
Dan untuk saya sendiri tentunya, telepon Bapak dan Ucapkan
terima kasih padanya, ucapkan bahwa kita menyayanginya. Ucapkan bahwa kita
tidak akan pernah mengecewakannya.
Dengan Segenap Cinta untuk Bapak.
*Ah ya, dan selamat ulang tahun yang ke 3 untuk putrinya Mas
Budi. Semoga jadi anak yang selalu sayang dan berbakti pada orang tua J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar