Kamis, 05 Desember 2013

Tentang Kasih Sayang Bapak untuk Anaknya

Kita semua pasti tau, kasih Ibu sepanjang masa untuk anaknya, nyata dan selalu terasa. Tapi pernahkah kita, para anak berpikir tentang kasih Bapak yang juga tak pernah absen untuk anak-anaknya. Saya sendiri, lebih sering berkasih sayang dengan Ibu, lebih dekat dengan Ibu, semua hal pasti Ibu tahu. Beda dengan Bapak yang lebih banyak tidak dirumah dan tidak bersama kita. Tapi pagi ini saya ingin berbagi sedikit kisah yang mungkin menginspirasi, tentang Bapak, tentang Pengorbanan dan kasih sayang Bapak untuk anaknya.


Pagi ini, seperti biasa saya datang ke Kampus, bukan untuk kuliah, karena memang mata kuliah saya sudah habis, eh belum ding, masih ada satu lagi matkul lagi untuk saya bisa disebut Sarjana. Eeh, kembali ke cerita saya ya J

Baru saja menaruh tas dan duduk, tak lama masuk Mas Budi, Mas Budi ini Asisten Saya di ruangan,  biasa membantu untuk menjaga kebersihan kantor dan semua hal di ruangan. Biasanya mas Budi masuk untuk mengantarkan gelas-gelas yang sudah dia cuci sebelumnya. Tapi kali ini berbeda, mas Budi masuk dengan tangan kosong tanpa gelas atau sapu di tangan. Saya pikir, Mas Budi mau minta mie untuk sarapan, atau teh manis panas, atau ada titipan pesan untuk saya. 
Seperti biasa, saya tanya “Ada apa Mas Budi?”

Dengan agak kikuk mas Budi mengambil duduk di meja disamping saya. Agak terbata-bata juga mas Budi berusaha menyampaikannya kepada saya bahwa honor dari Pusat kajian lain yang satu lantai dengan saya belum turun untuk bulan ini, 
padahal biasanya sudah Mba” kata Mas Budi.
“Oh koq bisa mas?” saya berusaha menimpali Mas Budi 
Iya Mba, saya juga sudah tanya, tapi yang biasa kasih honor saya lagi ada, kalau boleh saya mau pinjam dari sini Mba. Ada kebutuhan mendesak.” Masih dengan kikuk Mas Budi menjawab 
“Oh iya, ga papa Mas, Mas Budi butuh berapa?”  
Mas Budi menjawab angka sekian, yang mungkin buat orang lain itu tidak seberapa.
“Anak saya ulang tahun Mba besok Sabtu, jadi uang itu mau saya pakai untuk kue ulang tahun anak saya. Nanti kalau honor saya sudah turun akan langsung saya ganti Mba”
Deg!, saya langsung terharu mendengar penjelasan Mas Budi. Ternyata karena itu, saya langsung berpikir kemana-mana, emang dasarnya agak mellow juga orangnya. Terharu dengan usaha Mas Budi untuk anaknya.

Langsung saya paham, bahwa selama ini saya juga, selalu kurang berpikir tentang Bapak saya, yang lebih sering terlihat tidak peduli dengan anak-anaknya, sibuk diluar untuk bekerja. Tetapi, kita tak pernah tahu usaha apa yang sudah Bapak lakukan untuk membahagiakan anaknya, agar anaknya tak perlu kecewa, agar anaknya selalu bahagia. Dengan usaha apapun, tak peduli bagaimana, Bapak selalu ingin yang terbaik untuk anaknya.

Dan untuk saya sendiri tentunya, telepon Bapak dan Ucapkan terima kasih padanya, ucapkan bahwa kita menyayanginya. Ucapkan bahwa kita tidak akan pernah mengecewakannya.

Dengan Segenap Cinta untuk Bapak.

*Ah ya, dan selamat ulang tahun yang ke 3 untuk putrinya Mas Budi. Semoga jadi anak yang selalu  sayang dan berbakti pada orang tua J



Minggu, 01 Desember 2013

Perjalanan yang Pasti Berakhir; Malang-Baluran

Selamat Pagiii.. yak pagi ini terbangun oleh kumandang Adzan Subuh dari Masjid samping alun-alun Batu. Padahal baru tidur sebentar, tapi udah pagi ternyata. Selesai dengan rutinitas Sholat subuh dan cuci muka, cukup cuci muka aja ya, karena udara yang dingin bikin airnya juga jadi  sedingin es. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Malang, sambil mencari sarapan disana, cari kanan kiri ternyata tujuan jatuh pada alun-alun Kota Malang, sampai sana lagi ramai ternyata, ada acara ulang tahun salah satu Partai  yang acara utamanya adalah jalan sehat. 

Balai Kota Malang, Jawa Timur

Gedung Balai Kota Malang
Di alun-alun ternyata banyak sekali penjual makanan, dan yang pasti murah-murah. Langsung kalap deh jajan, beli cilok lah, Bakpao, terus masa jus jambu dan apel Cuma 2 ribu perak, langsung deh beli, tapi ternyata isinya adalah satu potong jambu dan satu potong apel yang di blender, aak sama aja boong -__-“ sarapan utamanya jatuh pada Soto Madura yang nangkring tepat di depan gedung Balai Kota Malang, rasanya lumayan, kuahnya juga enak, dan harganya cukup 6 ribu per mangkok, tambah kerupuk  seribu rupiah satu plastik. Aah sarapan murah meriah, perut kenyang, kantong senang. Hihi...
Jus Rp 2.000,-

Selesai sarapan, Maida, Dawud dan Reni memutuskan untuk langsung balik ke Surabaya, karena mereka harus kejar tiket balik ke Jakarta sore harinya, harus masuk kerja esok hari. Saya dan Abang sih masih punya plann lain, perjalanan masih akan kami lanjutkan ke Taman Nasional Baluran, Africa van Java nya Indonesia. ada yang pernah kesana, ada? Ada? Ada? Nah setelah ini saya akan cerita perjalanan dari Malang menuju Baluran, yuuk Capcus...

Saya dan Abang berpisah dengan rombongan di terminal Arjosari, Malang. Setelah awalnya bingung menentukan tujuan mau ke Baluran atau Sempu, akhirnya kami berdua memutuskan untuk ke Baluran saja, selain karena lebih jauh, juga lebih seru sepertinya. Berdasar itinerary yang kami dapat di Blog dan forum traveller, dari terminal Arjosari, Malang kami harus menuju Situbondo, berdasar info juga Baluran adalah Taman Nasional yang terletak di Batangan, sudah masuk wilayah Banyuwangi, Jawa Timur. Kalau berdasar itin yang sudah saya susun sih, saya bisa naik Bis jurusan Probolinggo, terus lanjut ke Sitobondo dengan bis lain.

Ya lagi-lagi ittenary orang adalah milik orang lain, itenary saya ya saya sendiri yang membuat. Dari terminal, saya naik Bis Akas, pas ditanya tujuan oleh kondektur yang ibu-ibu saya langsung reflek jawab mau ke Situbondo, ternyata oleh kondekturnya bisa langsung ke Situbondo. Tapi ternyata memang kita diturunkan di Probolinggo, baru dioper ke Bis lain yang mau ke Situbondo, bayarnya ternyata juga udah sekalian jadi satu di bis yang pertama tadi. Oleh bis yang kedua ini, kami diturunkan di terminal Bis Situbondo, berdasar hasil survey tanya-tanya, kalau mau ke Baluran kita harus naik Bis yang jurusan Banyuwangi, ga usah takut kehabisan bis, karena lumayan banyak koq bisnya, tanya aja sebelum naik, mereka lewat Batangan ga, tanya ke petugas terminal aja biar lebih aman. Hihi...

Di terminal Situbondo kami mengisi logistik dulu, sama nyari ATM, karena uang Cuma cukup buat naik bis sampai Batangan. Ternyata nyari ATM BNI, Mandiri dan BRI susah sekali, ga ada di sekitaran terminal. Akhirnya terpaksa ambil duit di ATM lain. Karena sudah siang, kami memutuskan untuk makan di warung sekitar terminal yang harganya super murmer, kami juga sekalin beli cemilan dan mie instant untuk bekal sehari semalam di Baluran nanti, kabarnya sih disana ga ada warung sama sekali. Yaak dan perjalanan masih harus dilanjutkan, dari Situbondo kami naik bis kecil jurusan Situbondo-Ketapang-Muncar yang bertolak dari terminal sekitar pkl 14.30an. kali ini penumpang bis penuh banget, bahkan banyak yang berdiri, bis sempet isi bensin sebentar di Pom Bensin, pas mau berangkat lagi tiba-tiba kernet heboh, ampe kaget seluruh penumpang, ternyata ada satu penumpang yang masih ketinggalan di kamar mandi.

Perjalanan ke Baluran ternyata memakan waktu yang cukup lama, ini karena bis yang berkali-kali berhenti ngetem. Setelah melwati hutan-hutan yang ternyata sudah termasuk wilayah Taman Nasional Baluran [ada tulisan gedenya], kami turun di Batangan yang ternyata adalah Gerbang Pintu masuk ke Taman Nasional. Kami harus beli tiket dulu di loket yang, kalau hari biasa dan rame, loket yang dipakai adalah loket yang agak masuk ke dalam, tapi berhubung sudah sore dan loket resmi sudah tutup, maka kami beli tiket masuknya di Pos yang ada di pintu gerbang.
Gerbang Masuk Taman Nasional Baluran


Karena kami akan menginap di Bekol, kami langsung dicarikan kamar. Ada dua penginapan yang terdapat di Taman Nasional Baluran, yaitu Bama dan Bekol. Penginapan di Bekol per malamnya 35 k per orang,  kalau di Bama tarifnya 75 k per orang per malam, itungannya per orang ya, bukan per kamar. Semuanya tergantung selera dan budget, kalau menginap di Bekol, pemandangannya adalah padang Savana sejauh mata memandang, beda dengan di Bama yang penginapannya langsung menghadap pantai, semua punya keistimewaan masing-masing.

Ternyata untuk mencapai Bekol dari pintu gerbang masih jauh, masih 12 km, tadinya sih mau trekking, tapi berhubung sudah sore dan takut keburu gelap kami memutuskan untuk menggunakan jasa ojek. Ojek disini sebenarnya adalah para polisi hutan yang bertugas di TN Baluran atau warga lokal, jadi ga usah takut kehabisan ojek, sebenarnya di Pos juga menyediakan jasa sewa motor, tapi ternyata lebih mahal ketimbang naik ojek, belum lagi bensinnya.. ternyata memang masih jauh, pakai jasa ojek aja sekitar 30 menit perjalanan, kondisi jalan ternyata juga rusak parah. Di tengah perjalanan kami juga banyak bertemu dengan bis dan mobil para pengunjung lain, bedanya mereka perjalanan pulang karena weekend sudah berakhir. Ternyata banyak juga yang mengunjungi TN Baluran ini. Sepanjang perjalanan adalah hutan dengan berbagai pepohonan yang masih sangat rimbun.

Sampai di Bekol hari sudah menjelang gelap, pemandangan disini didominasi oleh savana di depan, kanan, kiri dan belakang adalah hutan hijau dan savana, terdapat beberapa penginapan yang disewakan untuk para pengunjung yang menginap. Yang paling menarik perhatian juga banyaknya monyet2 yang berkeliaran bebas di sekitar penginapan. Kita langsung diantar oleh Bapak yang ternyata Polisi hutan yang ditugaskan di Bekol, beliau sedang kebagian tugas piket, sampai di kamar kita langsung diberika penjelasan tentang tata tertib pemakaian kamar dan listrik. Listrik di sini berasal dari mesin genset, jadi hanya hidup pada pkl 17.30-23.00 WIB. Satu kamar disini berisi 2 kasur single bed dan bantal, ga ada selimut ya, jadi boleh bawa selimut karena udara malam agak dingin. Kamar mandi yang ada terletak diluar penginapan.


Ikonnya Taman Nasional Baluran, dibelakangnya padang savana Baluran.

Mumpung hari belum terlalu gelap, setelah menaruh barang-barang kami langsung menyempatkan untuk melihat sekeliling, kami menemukan tangga di samping bangunan mushola yang ternyata menuju ke Menara Pandang. Dari atas menara Pandang kami bisa melihat pemandangan savana, gunung Baluran dan bahkan juga pantai Bama. Langsung berencana buat trekking besoknya. Malemnya, karena gelap gulita dan penerangan hanya ada di penginapan kita ga bisa kemana-kemana, daripada nekat jalan malem terus ketemu serigala atau keseruduk banteng, mending bobo manis di penginapan, kan sayang kalau udah bayar tapi ga dimanfaatin maksimal. Hoho.. sebelumnya kita masak mie instan untuk makan malam, ternyata bener kalau disini ga ada yang jual makanan. Masak mie nya numpang di dapur Pos Penjaga, pasti boleh koq kalau ijin, kita bahkan sampai ditawari nasi sama Bapaknya, tapi jangan lupa dibersihkan dan diberekan seperti semula ya. Karena suasana yang sepi banget, Cuma ada suara monyet, jam setengah 8 udah tepar aja, ga inget apa-apa.


Pengeluaran  Day 2:
Bis Malang-Situbondo : 28 k
Situbondo-Batangan: 10 k
Nasi Soto: 5 k
Nasi pecel: 5 k
Es teh dan es jeruk       : 4 k
Mie instan: 8,2 k
Snack dan air: 16 k
Tiket masuk Baluran: 5 k

Ojek ke Bekol: 30

Semalam di Malang

Sebenarnya judulnya lebih pas kalau "very late post", karena sudah beberapa bulan lalu banget sih ini. tapi ga papa, lagi pengen nulis di blog (lagi).

Begini, saya mau sedikit share perjalanan Surabaya-Malang aah.. sebenarnya perjalanan ini adalah rangkaian dari perjalanan kunjungan untuk menghadiri Wisuda teman-teman di ITS., jadi sudah jadi adat dan kebiasaan aja kalau ada teman di Universitas lain wisuda, maka kami akan dengan senang hati ikut meramaikan, berharap didoakan agar segera menyusul. heheh..
Kami serombongan (saya dan 4 orang lainnya ) jauh-jauh berangkat dari Jakarta dengan transportasi kereta api yang murah meriah, waktu itu tiketnya 45 ribu naik ekonomi.  Sore hari bertolak dari Stasiun Pasar Senen berbarengan dengan ratusan penumpang lain yang juga punya tujuan sama, perjalanan Jakarta-Surabaya kami tempuh selama kurang lebih 14 jam, 14  jam loh ya, sungguh luas Pulau Jawa -_-. Sabtu pagi akhirnya sampai juga di stasiun tujuan, Pasar Turi. Siangnya, acara wisuda teman-teman ITS berjalan dengan lancar. 

Selesai dari acara wisudaan, kita langsung bikin planning nih buat jalan-jalan, ga mau banget donk perjalanan 14 jam Cuma buat ke Surabaya aja. Berdasar kesepakatan bersama akhirnya kita mutusin buat ke Malang dengan menyewa mobil plus supirnya, secara diantara kita ga ada yang bisa nyetir -__-, akhirnya setelah deal dengan yang kasih rental, kita dapat harga (lupa), heheh  untuk mobil dan sopir. Sore jam 4.30 an, mobil dan supirnya sudah siap menjemput. Dengan anggota yang masih sama, karena anak2 ITS pada ga bisa diajak jalan, padahal kalau makin rame makin murah lho, tapi yaudahlah, akirnya kita tetep jalan berlima.
Perkenalkan, sahabat-sahabat saya di ITS rek.
Pak Sopirnya ternyata sangat menganut pepatah jawa “alon-alon asal kelakon”, jalannya itu lho hati-hati banget, mana lama, di jalan juga sempet macet, jadilah perjalanan Surabaya Malang yang harusnya 2 jam sampai jadi 3,5 jam. Mana sampai malang bapaknya agak bingung gitu ditanya jalan, Ya Robbi, untung saya dan Dawud udah pernah ke malang sebelumnya, seenggaknya kita punya gambaran mau kemana dan harusnya lewat mana. Tujuan pertama setelah menginjak Malang tentu saja Wahana Batu Night Spectacular (BNS) yang juga merupakan ikon wisata kota Malang. BNS ini adalah wahana yang isinya berbagai macam permainan lho, mulai dari permainan yang menyenangkan hingga yang menantang adrenalin. Kalau yang udah pernah ke Dunia Fantasi di Jakarta, isi dari BNS mirip-mirip lah sama Dufan, Cuma di BNS ini permainannya beberapa berbeda, namanya juga beda, lebih serem. BNS ini juga hanya dibuka mulai dari sore sampai tengah malam, namanya juga ada Night-nigtnya nya, hihii..

ini nih penampakan BNS dari depan.

Beberapa wahana yang bisa dicoba di BNS

BNS ini terletak di Desa Oro-oro Ombo, Malang. Sampai BNS udara dingin langsung menusuk kulit, secara Batu juga daerah dataran tinggi, jadi udaranya ga siang ga malam tuh dingin, jangan lupa bawa jaket ya buat yang travelling ke Malang. Sampai BNS, ternyata ramai sekali, mungkin karena weekend juga, selain warga lokal, juga banyak plat mobil luar malang yang mampir di BNS. Tiket masuk BNS sebesar IDR 15 k, tapi ini hanya tiket masuk aja loh ya, di dalam BNS nya ternyata masih harus bayar lagi kalau mau naik wahana/permainan yang ada. Di dalam BNS sendiri ada berbagai macam permainan mulai dari Rumah Hantu, Sepeda udara, Taman Lampion, sampai air mancur yang menari-nari. Taman lampion di BNS ini mirip dengan Taman Lampion di Jogja, bedanya kalau di BNS ini lebih kecil areanya, lampionnya juga lebih banyak lampion replika kartun-kartun Disney, jadi lebih cocok untuk anak-anak. Wahana yang pertama kita tuju adalah Sepeda Udara, dengan tiket IDR 12,5 k per orang, kita sudah bisa mencoba wahana sepeda udara. Sepeda udara ini berada di lintasan yang tingginya kurang lebih 4-5 m, sama kayak lintasan kereta, tapi kita harus mengayuh sepedanya ini, dari atas sepeda, kita bisa menikmati pemandangan kota malang lho, bagus, tapi sayangnya lintasannya sepeda udaranya pendek. Jadi kurang begitu puas menikmati view yang ada.

Kalau yang ini Orbiter, katanya sih ga kalah bikin pusing

Tujuan ke dua ternyata jatuh ke Kantin BNS, perut yang belum diisi sedari sore minta jatah untuk diiisi. Di kantin BNS ini ada  beberapa menu makanan yang bisa dipilih di Konter2 yang telah disediakan, rata-rata harganya sama. Yang beda dari kantin BNS ini adalah sebelum membeli makanan kita harus membeli semacam kartu yang ada saldonya, kalau ga salah sih minimal IDR 50 k, baru kita bisa beli makanan di Konter yang ada, kartu akan digesek di konter yang kita beli makanannya dan otomatis saldo akan berkurang sesuai harga makanan. Baru nanti kalau sudah selesai, kita bisa kembalikan kartu di kasir dan kembalian akan diberikan sesuai saldo yang tersisa. Di dalam kantin juga ada panggung yang menampilkan beberapa pertujukan, free looh. Waktu kami datang sih lagi ada band dan tarian tradisional yang bergantian tampil, didepan panggung juga ada air mancur yang bisa bergoyang mengikuti irama musik, dengan warna warni lampu yang berbeda, tentunya semakin menambah semarak suasana makan malam kita, karena sebenarnya makanan disini kurang recommended, rasanya biasaaaaa banget, tapi suasana yang ada jadi bisa nutupin rasa yang biasa itu sih.

Naah kelar dengan urusan perut [alhamdulillah], kami langsung melanjutkan perjalanan mencoba wahana yang ada di BNS, semakin malam ternyata semakin ramai lho. Wahana tujuan ke dua adalah.. jeng jeng jeng... naik mega mix yang terkenal di BNS itu, hihi.. kalau ngeliatin yang pada naik sih kayaknya seru (serem), adrenalin langsung tertantang, tapi yang berani naik Cuma saya dan Dawud, ya udah lah ga papa, daripada kalau dipaksa naik jadi ngerepotin. Dengan membayar IDR 15 k, saya dan Dawud langsung duduk di di Wahanan yang berbentuk kincir ini, bersiap untuk diputar-putar dan dibolak balik selama 2 menit. Bismillah. Ternyata seruuu, hahaha.. sedikit deg-deg an di awal, tapi nagih gitu di akhir. Ternyata megamix masih ga cukup buat muasin adrenalin, jadi marilah kita coba satu wahana lagi yaitu Sepeda Gila, penasaran aja, beneran bikin gila ga nih sepeda. Dan jeng jeng jeng... dengan tiket IDR 10 k, lagi lagi saya dan Dawud naik sepeda Gila yang memang didesain untuk 2 orang ini, yang lain sih cuma ngeliatin. Dan ternyata, Masya Allah, sepedanya beneran bikin gila, 4 menit berasa lamaaaaa banget, diputer, dibalik, sampe darah di kepala semua, di puter lagi, di balik lagi. Ya Allah, udah capek teriak, jantung juga udah capek banget rasanya. Dan akhirnya 4 menit berasa 4 menit untuk terakhir kalinya. Lega banget gitu pas udah selesai. Mas-mas operator nya juga malah senyum-senyum ngeliatin kita, aseeem.. iseng aja nanya, ternyata masnya juga belum pernah nyobain sepeda gila, ga mau juga, bahkan sampe akunya mau nraktir dia loh, dibayar sejuta juga ga mau katanya. Pantesan aja mas, mas,. Kamu udah pengalaman kali ya sama orang-orang yang selesai dari wahanan terus jadi gila. Jadi yang dateng ke BNS, wajib banget nyobain Sepeda Gila yaa :D 

Sepeda Gila yang bikin gila!!

Karena hari yang semakin malam, dan saya juga berasa udah tepar, akhirnya kita mutusin buat keluar dari BNS, ganti suasana dan sekaligus menghindar dari sepeda gila. Di jalan keluar kita sempetin mampir di toko-toko yang jual makanan dan souvenir khas Malang, ada macem-macem keripik dan kerupuk mulai dari 10 ribu dapet 3 sampai yang satuannya 30 ribuan, lumayan kan buat cemilan di jalan.

Partner kita, Reni udah tepar aja, katanya sih masuk angin, Cuma jadi ga enak aja kalau di perjalanan ada satu yang sakit. Dari BNS, tujuan selanjutnya adalah alun-alun Batu, meskipun udah lewat tengah malam, ternyata alun-alun Batu masih ramai, banyak muda mudi sampai orang tua juga yang masih duduk-duduk atau sekedar narsis poto-poto. Kita sih sampai langsung duduk-duduk, dingin banget brrrr..... si Reni mutusin buat di dalem mobil aja karena lebih hangat memang. Alun-alun Batu ini adalah salah satu tujuan wisata juga lho di Batu, Malang. Kalau lagi ada event biasanya juga dipusatkan disini, kayak panggung musik atau event-event lain, pas pertama kali datang kesini dulu, alun-alun lagi ramai dengan gambar Munir, perayaan mengenang Munir. Kalau sekarang, lagi ga ada event tertentu, karena Cuma ada lampion-lampion dalam berbagai bentuk dan karakter yang memang selalu ada. Yang unik juga bangunan toilet di Alun-alun Batu ini berbentuk apel, apel yang jadi ikon Kota Malang juga mendominasi hiasan di Alun-alun batu. Disekitar alun-alun juga terdapat beberapa cafe yang buka sampai pagi, tapi buat kami cukup jajan pentol dan jagung rebus juga udah cukup, ngirit juga sih. Karena ngirit juga kami memutuskan untuk tidur di dalam mobil aja, di depan Plaza Batu, sambil menikmati udara malang yang dingin dan masih sejuk.

Tinggal menunggu rencana untuk besok deh, Selamat tidur....