Minggu, 01 Desember 2013

Perjalanan yang Pasti Berakhir; Malang-Baluran

Selamat Pagiii.. yak pagi ini terbangun oleh kumandang Adzan Subuh dari Masjid samping alun-alun Batu. Padahal baru tidur sebentar, tapi udah pagi ternyata. Selesai dengan rutinitas Sholat subuh dan cuci muka, cukup cuci muka aja ya, karena udara yang dingin bikin airnya juga jadi  sedingin es. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Malang, sambil mencari sarapan disana, cari kanan kiri ternyata tujuan jatuh pada alun-alun Kota Malang, sampai sana lagi ramai ternyata, ada acara ulang tahun salah satu Partai  yang acara utamanya adalah jalan sehat. 

Balai Kota Malang, Jawa Timur

Gedung Balai Kota Malang
Di alun-alun ternyata banyak sekali penjual makanan, dan yang pasti murah-murah. Langsung kalap deh jajan, beli cilok lah, Bakpao, terus masa jus jambu dan apel Cuma 2 ribu perak, langsung deh beli, tapi ternyata isinya adalah satu potong jambu dan satu potong apel yang di blender, aak sama aja boong -__-“ sarapan utamanya jatuh pada Soto Madura yang nangkring tepat di depan gedung Balai Kota Malang, rasanya lumayan, kuahnya juga enak, dan harganya cukup 6 ribu per mangkok, tambah kerupuk  seribu rupiah satu plastik. Aah sarapan murah meriah, perut kenyang, kantong senang. Hihi...
Jus Rp 2.000,-

Selesai sarapan, Maida, Dawud dan Reni memutuskan untuk langsung balik ke Surabaya, karena mereka harus kejar tiket balik ke Jakarta sore harinya, harus masuk kerja esok hari. Saya dan Abang sih masih punya plann lain, perjalanan masih akan kami lanjutkan ke Taman Nasional Baluran, Africa van Java nya Indonesia. ada yang pernah kesana, ada? Ada? Ada? Nah setelah ini saya akan cerita perjalanan dari Malang menuju Baluran, yuuk Capcus...

Saya dan Abang berpisah dengan rombongan di terminal Arjosari, Malang. Setelah awalnya bingung menentukan tujuan mau ke Baluran atau Sempu, akhirnya kami berdua memutuskan untuk ke Baluran saja, selain karena lebih jauh, juga lebih seru sepertinya. Berdasar itinerary yang kami dapat di Blog dan forum traveller, dari terminal Arjosari, Malang kami harus menuju Situbondo, berdasar info juga Baluran adalah Taman Nasional yang terletak di Batangan, sudah masuk wilayah Banyuwangi, Jawa Timur. Kalau berdasar itin yang sudah saya susun sih, saya bisa naik Bis jurusan Probolinggo, terus lanjut ke Sitobondo dengan bis lain.

Ya lagi-lagi ittenary orang adalah milik orang lain, itenary saya ya saya sendiri yang membuat. Dari terminal, saya naik Bis Akas, pas ditanya tujuan oleh kondektur yang ibu-ibu saya langsung reflek jawab mau ke Situbondo, ternyata oleh kondekturnya bisa langsung ke Situbondo. Tapi ternyata memang kita diturunkan di Probolinggo, baru dioper ke Bis lain yang mau ke Situbondo, bayarnya ternyata juga udah sekalian jadi satu di bis yang pertama tadi. Oleh bis yang kedua ini, kami diturunkan di terminal Bis Situbondo, berdasar hasil survey tanya-tanya, kalau mau ke Baluran kita harus naik Bis yang jurusan Banyuwangi, ga usah takut kehabisan bis, karena lumayan banyak koq bisnya, tanya aja sebelum naik, mereka lewat Batangan ga, tanya ke petugas terminal aja biar lebih aman. Hihi...

Di terminal Situbondo kami mengisi logistik dulu, sama nyari ATM, karena uang Cuma cukup buat naik bis sampai Batangan. Ternyata nyari ATM BNI, Mandiri dan BRI susah sekali, ga ada di sekitaran terminal. Akhirnya terpaksa ambil duit di ATM lain. Karena sudah siang, kami memutuskan untuk makan di warung sekitar terminal yang harganya super murmer, kami juga sekalin beli cemilan dan mie instant untuk bekal sehari semalam di Baluran nanti, kabarnya sih disana ga ada warung sama sekali. Yaak dan perjalanan masih harus dilanjutkan, dari Situbondo kami naik bis kecil jurusan Situbondo-Ketapang-Muncar yang bertolak dari terminal sekitar pkl 14.30an. kali ini penumpang bis penuh banget, bahkan banyak yang berdiri, bis sempet isi bensin sebentar di Pom Bensin, pas mau berangkat lagi tiba-tiba kernet heboh, ampe kaget seluruh penumpang, ternyata ada satu penumpang yang masih ketinggalan di kamar mandi.

Perjalanan ke Baluran ternyata memakan waktu yang cukup lama, ini karena bis yang berkali-kali berhenti ngetem. Setelah melwati hutan-hutan yang ternyata sudah termasuk wilayah Taman Nasional Baluran [ada tulisan gedenya], kami turun di Batangan yang ternyata adalah Gerbang Pintu masuk ke Taman Nasional. Kami harus beli tiket dulu di loket yang, kalau hari biasa dan rame, loket yang dipakai adalah loket yang agak masuk ke dalam, tapi berhubung sudah sore dan loket resmi sudah tutup, maka kami beli tiket masuknya di Pos yang ada di pintu gerbang.
Gerbang Masuk Taman Nasional Baluran


Karena kami akan menginap di Bekol, kami langsung dicarikan kamar. Ada dua penginapan yang terdapat di Taman Nasional Baluran, yaitu Bama dan Bekol. Penginapan di Bekol per malamnya 35 k per orang,  kalau di Bama tarifnya 75 k per orang per malam, itungannya per orang ya, bukan per kamar. Semuanya tergantung selera dan budget, kalau menginap di Bekol, pemandangannya adalah padang Savana sejauh mata memandang, beda dengan di Bama yang penginapannya langsung menghadap pantai, semua punya keistimewaan masing-masing.

Ternyata untuk mencapai Bekol dari pintu gerbang masih jauh, masih 12 km, tadinya sih mau trekking, tapi berhubung sudah sore dan takut keburu gelap kami memutuskan untuk menggunakan jasa ojek. Ojek disini sebenarnya adalah para polisi hutan yang bertugas di TN Baluran atau warga lokal, jadi ga usah takut kehabisan ojek, sebenarnya di Pos juga menyediakan jasa sewa motor, tapi ternyata lebih mahal ketimbang naik ojek, belum lagi bensinnya.. ternyata memang masih jauh, pakai jasa ojek aja sekitar 30 menit perjalanan, kondisi jalan ternyata juga rusak parah. Di tengah perjalanan kami juga banyak bertemu dengan bis dan mobil para pengunjung lain, bedanya mereka perjalanan pulang karena weekend sudah berakhir. Ternyata banyak juga yang mengunjungi TN Baluran ini. Sepanjang perjalanan adalah hutan dengan berbagai pepohonan yang masih sangat rimbun.

Sampai di Bekol hari sudah menjelang gelap, pemandangan disini didominasi oleh savana di depan, kanan, kiri dan belakang adalah hutan hijau dan savana, terdapat beberapa penginapan yang disewakan untuk para pengunjung yang menginap. Yang paling menarik perhatian juga banyaknya monyet2 yang berkeliaran bebas di sekitar penginapan. Kita langsung diantar oleh Bapak yang ternyata Polisi hutan yang ditugaskan di Bekol, beliau sedang kebagian tugas piket, sampai di kamar kita langsung diberika penjelasan tentang tata tertib pemakaian kamar dan listrik. Listrik di sini berasal dari mesin genset, jadi hanya hidup pada pkl 17.30-23.00 WIB. Satu kamar disini berisi 2 kasur single bed dan bantal, ga ada selimut ya, jadi boleh bawa selimut karena udara malam agak dingin. Kamar mandi yang ada terletak diluar penginapan.


Ikonnya Taman Nasional Baluran, dibelakangnya padang savana Baluran.

Mumpung hari belum terlalu gelap, setelah menaruh barang-barang kami langsung menyempatkan untuk melihat sekeliling, kami menemukan tangga di samping bangunan mushola yang ternyata menuju ke Menara Pandang. Dari atas menara Pandang kami bisa melihat pemandangan savana, gunung Baluran dan bahkan juga pantai Bama. Langsung berencana buat trekking besoknya. Malemnya, karena gelap gulita dan penerangan hanya ada di penginapan kita ga bisa kemana-kemana, daripada nekat jalan malem terus ketemu serigala atau keseruduk banteng, mending bobo manis di penginapan, kan sayang kalau udah bayar tapi ga dimanfaatin maksimal. Hoho.. sebelumnya kita masak mie instan untuk makan malam, ternyata bener kalau disini ga ada yang jual makanan. Masak mie nya numpang di dapur Pos Penjaga, pasti boleh koq kalau ijin, kita bahkan sampai ditawari nasi sama Bapaknya, tapi jangan lupa dibersihkan dan diberekan seperti semula ya. Karena suasana yang sepi banget, Cuma ada suara monyet, jam setengah 8 udah tepar aja, ga inget apa-apa.


Pengeluaran  Day 2:
Bis Malang-Situbondo : 28 k
Situbondo-Batangan: 10 k
Nasi Soto: 5 k
Nasi pecel: 5 k
Es teh dan es jeruk       : 4 k
Mie instan: 8,2 k
Snack dan air: 16 k
Tiket masuk Baluran: 5 k

Ojek ke Bekol: 30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar